Jumat, 09 Desember 2011

Musim Hujan, Musin Ujian. Apa Kabar Status Facebook?



Oleh Septiani DW
Siang yang gelap. Hujan hebat datang tanpa peduli pada aktivitas penghuni bumi. Tanpa kompromi dan tanpa bisa diprediksi. Sepertinya sang malaikat pengatur jadwal hujan sengaja ingin menunjukkan pada manusia bahwa segala kecanggihan yang diciptakan manusia pun tak akan mampu menandingi secuilpun kuasa dan kehendak sang Robb semesta Alam. Bahkan untuk sekedar urusan prediksi hujan.
Seorang akhwat berkerudung setengah tubuh terlihat cemas berdiri di teras sebuah bangunan besar bermerk sebuah kampus ternama di Jakarta. Akhwat tinggi ramping itu berkali kali menengok jam tangan mungil yang melingkar dipergelangan tangannya.

Pukul 02.00 PM. Lagi ia melihat jam tangannya. Setiap setengah menit sekali. Lalu menengok langit dan menatapi titik-titik air yang tumpah ketanah.
Dialah Azizah. Seorang mahasiswi dikampus itu. Baru saja ia keluar dari ruang ujiannya. Hari ini satu ujian tertulis telah ia lewati walau ia harus menyerahkan lembar jawaban dengan rasa tak rela pada pengawas berwajah dingin yang dengan tanpa basa basi berkata,“Waktunya habis, tidak ada lagi yang menulis, soal dan jawaban kumpulkan kemeja saya!”. Tanpa kenal kompromi!
Sudahlah, yang penting sudah berusaha maksimal dan berbuat yang terbaik. Pikir Azizah menenangkan diri.
Siang ini ia ingin segera sampai di kamar kost-nya dan segera menyelesaikan paper-nya, setidaknya sore ini ia harus telah selesai 75% untuk dikonsultasikan pada pembimbingnya sebelum dikumpulkan tiga hari lagi.
Namun kini, hujan sepertinya hendak turut andil dalam menguji kekuatannya menahan keluh yang sedari tadi kian menggumpal dalam hatinya.
“Ya Robbi, semoga cepat reda hujannya...” gumam hati Azizah.
30 menit berlalu. Hujan belum juga berhenti. Namun sudah tidak sederas tadi. Azizah menengok isi tasnya, memastikan adakah benda berarti yang tak boleh basah? Syukurlah tak ada. Tanpa pikir panjang ia berjalan menerobos sisa hujan yang tinggal gerimis.
10 menit ia sampai di kost-nya, sedikit basah walau tak kuyup. Diraihnya notebook biru 10 inchi kesayangannya. Seperti biasa sebelum mulai tenggelam dalam paper-nya, ia menyalakan modem, mengecek e-mail, browsing beberapa sumber yang ia perlukan untuk paper-nya, dan tak lupa membuka jejaring sosialnya, Facebook.
Ketika membuka akun Facebook-nya, tiba-tiba matanya tertumpu pada sebuah status temannya:
“Uh... bete banget nih hujan gak berhenti-berhenti... banjir dah jalanan gue pulang nanti gimana? >,<” (Rara, 20 menit lalu)
Hhmm… ternyata Si Rara tadi pas nunggu hujan berhenti update status toh? Gumam Azizah. Azizah melanjutkan penyisiran beranda Facebook. Lagi ia membaca beberapa status senada:
“Iih jalanan macet banget sih, mana ujan deres banget lagi… bisa mati kedinginan gue dijalanan!” (Dicky, 15 menit lalu)
“Kepala pusing, flu berat gara-gara musim hujan…” (Syera, 17 menit lalu)
Astaghfirullah… kalau hujan, salah siapa? Hmm... ada-ada saja nih status teman-teman. Ups, ada satu status yang paling ngenes nih:
“Udah ujian berantakan, flashdisk virusan, data ilang, pulang kehujanan… lengkap sudah penderitaan gue! Rasanya gue pengen loncat dari lantai 16, Hiks :(” (Merryanti, 13 menit lalu)
Masya Allah… walaupun mungkin status itu dibuat dengan tidak serius, tapi membacanya membuat merinding. Bukankah perkataan juga mempengaruhi aksi orang yang berkata?
Berhati-hatilah terhadap ucapan kita walaupun dalam bercanda, atau sekedar dalam lagu. Karena ucapan itu adalah do’a dan sangat mempengaruhi terhadap apa yang dirasa dan apa yang dilakukan oleh orang yang berucap.
Pernah melihat seseorang yang seketika menangis saat mendengarkan sebuah lagu? Lalu ketika ditanya kenapa, pasti orang tersebut akan menjawab,“Lirik lagunya menyentuh...”Bermula dari kata-kata lalu sebuah perasaan diciptakan. Atau pernah melihat seseorang berkata pada dirinya,“Semangat!” lalu kita lihat pengaruh setelah ia berkata ia tampak lebih semangat dari sebelumnya. Karena kata-kata diri adalah cerminan diri, karena kata-kata diri adalah sugesti, karena kata-kata adalah do’a, maka selayaknya kita lebih berhati-hati.
Azizah menutup tab Facebook-nya, nyaris semua status memenuhi beranda Facebook-nya siang ini berisi keluhan. Tentang hujan, tentang ujian, tentang sakit dan tentang-tentang yang lain.
Entah kenapa, ia merasa tak suka ketika membaca status-status mengeluh itu. Seakan Si Pemilik status ingin dikomentari, diberi perhatian oleh teman-teman Facebook yang lain. Alih-alih dapat menyelesaikan masalah, mengeluh hanya akan membuat kita terlihat lemah. Seakan tak ridho pada ketetapan Allah SWT. Na’udzubillah…
Ia teringat pada dirinya, mungkin ia juga pernah khilaf membuat status mengeluh, dan jangan-jangan orang lain yang membacanya merasa seperti saat ini ia membaca status-status mengeluh itu. Astaghfirullah... semoga Allah mengampuni kekhilafan di masa lalu kita dan semoga kita tidak mengulanginya di masa depan. Semoga kita termasuk orang yang selalu berusaha untuk bersyukur dan bersabar di kala lapang maupun sempit.

Sejenak kemudian Azizah tenggelam dalam rangkaian kata untuk tugas paper-nya. Harus selesai 75% sebelum pukul 04.30 petang.
Di tengah Hujan dan ujian, di tengah November 2011
Septiani_dw@ymail.com

sumber:http://www.eramuslim.com/oase-iman/septiani-dw-musim-hujan-musin-ujian-apakabar-status-facebook.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar